Jumat, 18 Desember 2009

Semut vs Gajah: Refleksi Menjelang Tahun Baru Hijrah


Belakangan ini nurani kita terusik oleh berbagai fenomena anomali sosial, politik, dan hukum yang dinilai telah mengebiri nasib rakyat kecil. Masih jelas terbayang dalam layar memori kita sebuah drama pertarungan sengit antara cicak melawan buaya yang ber-ending memilukan buat sang buaya. Retorika yang terus dibangun akhirnya runtuh berkat dukungan dan tekanan publik bertubi-tubi.

Fenonema perlawanan sengit juga ditunjukkan dalam perseteruan dahysat antara Mbak Prita Mulyasari versus RS Omni Internasional di atas panggung sosial negeri ini. Dukungan dan empati publik yang terus mengalir dari berbagai sisi melalui gerakan “Koin Keadilan”, diakui atau tidak, telah merontokkan nyali para elite sebuah rumah sakit yang dengan pongah menahbiskan dirinya sebagai RS berstandar Internasional itu. Secara resmi, mereka telah mencabut gugatan perdata dan meminta maaf secara terbuka kepada mantan pasiennya itu.

Fenomena “Koin Keadilan” dalam perseteruan antara Bu Prita vs RS Omni mengingatkan saya tentang dongeng “Semut dan Gajah”. Secara kasat mata, semut mustahil sanggup menaklukkan gajah. Namun, dalam situasi yang berbeda, kerumunan semut yang muncul secara bergelombang dan bertubi-tubi sanggup melawan gajah, bahkan bisa membuat sang gajah mati berdiri akibat tak sanggup lagi menghadapi amukan kerumunan semut yang muncul dari berbagai sisi. Lantas, menggigit telinga atau menerobos lubang dubur, hingga akhirnya membuat sang gajah lemas, loyo, dan tak berdaya. Habis!

Menjelang Tahun Baru 1431 Hijrah, mencuatnya fenomena “Koin Keadilan” seharusnya bisa dijadikan sebagai bahan refleksi bahwa tidak selamanya arogansi dan sikap takabur akan mampu membuat rakyat kecil kehilangan nyali.

Kalau kita kembali membuka catatan sejarah, ada beberapa contoh etos keteladanan tentang makna pengorbanan demi menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keyakinan. Pertama, kisah Ali bin Abi Thalib yang merelakan dirinya menggantikan Rasulullah dengan menempati tempat tidur Rasulullah untuk mengecoh orang-orang musyrik. Padahal, dia tahu betul bahwa taruhannya adalah nyawa.

Kedua, kisah Asma binti Abi Bakar R.A. yang harus berjalan sendirian pada hari yang gelap untuk menghindari pengamatan orang-orang Quraisy. Dia pun beresiko tertangkap orang-orang Quraisy yang selalu memburu Rasul dan sahabatnya. Namun, demi kebenaran, keyakinan, dan keselamatan Rasulullah, ia lakukan pekerjaan yang sarat resiko. Bahkan, ketika Rasul dan Abu Bakar membutuhkan dua tali pengikat, ia merelakan sebagian dari selendangnya untuk dibelah menjadi dua bagian agar bisa dipakai sebagai tali oleh Rasul.

Ketiga, kisah Abdullah bin Abu Bakar yang mondar-mandir antara gua Tsur dan Mekkah mencari berita dan mengikuti perkembangan, kemudian melaporkannya kepada Nabi dan ayahnya, Rasul dan Abu Bakar tetap mengetahui secara persis apa yang terjadi di sekelilingnya, meski berada di persembunyian. Abdullah ibarat surat kabar atau media online yang terus di-update secara intens, sehingga strategi Rasul tidak pernah meleset atau salah, sebab data yang didapat selalu akurat.

Keempat, kisah Amir bin Fahirah, pembantu Abu Bakar. Setiap hari dia harus membawa kambing-kambing piaraannya ke arah bukit Tsur guna menghapus jejak-jejak kaki Asma dan Abdullah ketika mereka pergi ke gua Tsur atau ketika mereka pulang kembali dari sana.

Ya, ya, ya, beberapa contoh keteladanan seperti kepingan puzzle dalam sebuah mozaik peradaban yang membuat nurani kita makin tersentuh dan terharu.

Situasi semacam itu sungguh kontras dengan situasi Indonesia kontemporer. Yang terjadi, bukannya semangat mengorbankan jabatan atau harta benda demi menegakkan kebenaran dan keadilan, melainkan sebaliknya. Tidak sedikit orang yang justru mengorbankan kebenaran demi mendapatkan jabatan dan harta.

Namun, sungguh, kebenaran itu tidak akan pernah bisa mati! Nah, selamat menyongsong Tahun Baru 1431 Hijrah, semoga kita benar-benar bisa berhijrah secara kultural dan spiritual, hingga akhirnya bisa melaju di tengah jalan tol peradaban dunia yang lebih bermoral, beradab, dan bermartabat. **

http://sawali.info/2009/12/16/semut-gajah-menjelang-tahun-baru/

Rabu, 02 Desember 2009

Keajaiban Manusia Akhir Zaman

Sesungguhnya keajaiban manusia di akhir zaman ini sangat banyak dan nyata sekali. Terkadang kita kurang jeli memperhatikannya sehingga terlihat dunia ini berjalan baik-baik saja. Namun, bila kita cermati dengan baik, kita akan menemukan segudang keajaiban dan keanehan dalam kehidupan manusia akhir zaman dan hampir dalam semua lini kehidupan. Keajaiban yang kita maksudkan di sini bukan terkait dengan persitiwa alam seperti gempa bumi, tsunami dan sebagainya, atau kejadian yang aneh-aneh lainnya, melainkan pola fikir manusia yang paradoks yang berkembang biak di akhir zaman ini.

Berikut ini adalah sebagian kecil dari berfikir paradoks yang berkembang akhir-akhir ini dalam masyarakat luas. Lebih ajaib lagi, berfikir paradoks tersebut malah dimiliki pula oleh sebagian umat Islam dan para tokoh mereka. Di antaranya :

Bila seorang pengusaha atau pejabat tinggi melakukan korupsi milyaran dan bahkan triliunan rupiah, maka aparat penegak hukum dengan mudah mengatakan tidak ada bukti untuk menahan dan mengadilinya.

Namun, bila yang mencuri itu seorang nenek atau masyarakat bawah (lemah), dengan mudah dapat ditangkap, disidangkan dan diputuskan hukuman penjara, kendati mereka mengambil hanya satu buah semangka atau tiga buah kakau, mungkin saja karena lapar.

Bila ada orang atau kelompok dengan nyata-nyata merusak dan melecehkan ajaran Islam yang sangat fundamental, seperti Tuhan, Kitab Suci dan Rasulnya, di negeri-negeri Islam, maka orang dengan gampang mengatakan yang demikian itu adalah kebebasan berpendapat, berekspresi dan menafsirkan agama.

Namun, bila ada khatib, ustazd atau masyarakat Muslim mengajak jamaah dan umat Islam untuk konsiten dengan ajaran agamanya, maka orang dengan mudah menuduhnya sebabai khatib, penceramah atau ustazd yang keras dan tidak bisa berdakwah dengan hikmah, bahkan perlu dicurigai sebagai calon teroris.

Apa saja yang dituliskan dalam koran, dengan mudah orang mempercayainya, kendati itu hanya tulisan manusia dan belum teruji kebenarannya. Membaca dan mempelajarinya dianggap lambang kemajuan.

Akan tetapi, apa yang tercantum dalam Al-Qur’an belum tentu dipercayai dan diyakini kebenarannya, kendati mengaku sebagai Muslim. Padahal Al-Qur’an itu Kalamullah (Ucapan Allah) yang mustahil berbohong. Kebenarannya sudah teruji sepnajang masa dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. Akhir-akhir ini muncul anggapan mengajarkan Al-Qur’an bisa mengajarkan paham terorisme.


Tidak sedikit manusia, termasuk yang mengaku Muslim yakin dan bangga dengan sistem hidup ciptaan manusia (jahiliyah), kendati sistem yang mereka yakini dan banggakan itu menyebabkan hidup mereka kacau dan mereka selalu menghadapai berbagai kezaliman dan ketidak adilan dari para penguasa negeri mereka. Mereka masih saja mengklaim : inilah jalan hidup yang sesuai dengan akhir zaman.

Namun, bila ada yang mengajak dan menyeru untuk kembali kepada hukum Islam, maka orang akan menuduh ajakan dan seruan itu akan membawa kepada keterbelakangan, kekerasan dan terorisme, padahal mereka tahu bahwa Islam itu diciptakan oleh Tuhan Pencipta mereka (Allah) untuk keselamatan dunia dan akhirat dan Allah itu mustahil keliru dan menzalimi hamba-Nya.


Ketika seorang Yahudi atau agama lain memanjangkan jenggotnya, orang akan mengatakan dia sedang menjalankan ajaran agamanya.

Namun, saat seorang Muslim memelihara jenggotnya, dengan mudah orang menuduhnya fundamentalis atau teroris yang selalu harus dicurigai, khususnya saat masuk ke tempat-tempat umum seperti hotel dan sebagainya.

Ketika seorang Biarawati memakai pakaian yang menutup kepala dan tubuhnya dengan rapih, orang akan mengatakan bahwa sang Biarawati telah menghadiahkan dirinya untuk Tuhan-nya.

Namun, bila wanita Muslimah menutup auratnya dengan jilbab atau hijab, maka orang akan menuduh mereka terbelakang dan tidak sesuai dengan zaman, padahal mereka yang menuduh itu, para penganut paham demokrasi, yang katanya setiap orang bebas menjalankan keyakinan masing-masing.

Bila wanita Barat tinggal di rumah dan tidak bekerja di luar karena menjaga, merawat rumah dan mendidik anaknya, maka orang akan memujinya karena ia rela berkorban dan tidak bekerja di luar rumah demi kepentingan rumah tangga dan keluarganya.

Namun, bila wanita Muslimah tingal di rumah menjaga harta suami, merawat dan mendidik anaknya, maka orang akan menuduhnya terjajah dan harus dimerdekakan dari dominasi kaum pria atau apa yang sering mereka katakan dengan kesetaraan gender.

Setiap mahasiswi Barat bebas ke kampus dengan berbagai atribut hiasan dan pakaian yang disukainya, dengan alasan itu adalah hak asasi mereka dan kemerdekaan mengekpresikan diri.

Namun, bila wanita Muslimah ke kampus atau ke tempat kerja dengan memakai pakaian Islaminya, maka orang akan menuduhnya eksklusif dan berfikiran sempit tidak sesuai dengan peraturan dan paradigma kampus atau tempat kerja mereka.

Bila anak-anak mereka sibuk dengan berbagai macam mainan yang mereka ciptakan, mereka akan mengatakan ini adalah pembinaan bakat, kecerdasan dan kreativitas sang anak.

Namun, bila anak Muslim dibiasakan mengikuti pendidikan praktis agamanya, maka orang akan mengatakan bahwa pola pendidikan seperti itu tidak punya harapan dan masa depan.

Ketika Yahudi atau Nasrani membunuh seseorang, atau melakukan agresi ke negeri Islam khususnya di Paestina, Afghanistan, Irak dan sebagainya, tidak ada yang mengaitkannya dengan agama mereka. Bahkan mereka mengakatakan itu adalah hak mereka dan demi menyelamatkan masyarakat Muslim di sana.

Akan tetapi, bila kaum Muslim melawan agresi Yahudi atas Palestina, atau Amerika Kristen di Irak dan Afghanistan, mereka pasti mengaitkannya dengan Islam dan menuduh kaum Muslim tersebut sebagai pemberontak dan teroris .

Bila seseorang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain, maka semua orang akan memujinya dan berhak mendapatkan penghormatan.

Namun, bila orang Palestina melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan anaknya, saudaranya atau orang tuanya dari penculikan dan pembantaian tentara Israel, atau menyelamatkan rumahnya dari kehancuran serangan roket-roket Israel, atau memperjuangkan masjid dan kitab sucinya dari penodaan pasukan Yahudi, orang akan menuduhnya TERORIS. Kenapa? Karena dia adalah seorang Muslim.

Bila anak-anak Yahudi diajarkan perang dan senjata otomatis untuk membunuh kaum Muslimin Palestina, maka orang akan menegatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah upaya membela diri kendati mereka adalah agresor.

Namun, bila anak Palestina belajar melemparkan batu menghadapi prajurit Yahudi yang dilengakapi dengan tank dan senjata canggih lainhya saat menghancurkan rumah, masjid dan kampung mereka, maka orang akan menuduh mereka sebagai pelaku kejahatan yang pantas ditangkap, dipatahkan tangannya dan dipenjarakan belasan tahun.

Nah, inilah sekelumit keajaiaban manusia di akhir zaman ini. Bisakah kita mendapatkan pelajaran yang baik sehingga dapat menentukan sikap yang benar, atau kita akan jatuh menjadi korban keajaiban akhir zaman? Allahul musta’an….(fj)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/keajaiban-manusia-akhir-zaman.htm

Jumat, 27 November 2009

Terjebak oleh Ritual Idul Qurban

Jakarta - Ajaran berkorban dimiliki oleh semua agama dan kepercayaan. Tanpa pengorbanan dipercayai kehidupan semakin tidak harmonis. Repotnya, pengorbanan sering dilakoni sebagai kegiatan spiritual an sich. Bukan ajaran untuk melakukan pengorbanan.

Dalam pemahaman agama dikenal adanya tingkatan-tingkatan yakni syariat, toriqoh, hakekat, dan marifat. Antara keempatya terdapat perbedaan yang sangat mencolok yang bisa dikategorikan bainas sama wal ard (antara bumi dan langit).

Syariat bisa dipahami sebagai ajaran agama yang mengatur wujud lahir manusia, baru thoriqoh atau ‘jalan’ atau proses dari syariat menuju hakekat. Baru setelah itu hakekat yakni esensi atau hal-hal yang menyangkut isi dari agama. Kemudian makrifat yaitu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya kenal. Dengan kata lain, syariah adalah kulit, toriqoh transisi, hakekat adalah isi, sedangkan marifat pengetahuan yang sebenarnya.

Dan ternyata pemahaman kita tentang ajaran yang sering kita lakoni setiap hari umumnya memang hanya terkait dengan kulit. Lapisan luar, dasar, elementer, atau pada tingkatan SD (sekolah dasar).

Hal demikian sering terjadi karena aspek ibadah yang dipandang oleh manusia hanyalah apa yang bisa dilihat oleh mata dan dirasakan oleh indera lainnya. Kalaulah hal tersebut berlangsung pada seseorang secara terus menurus maka kesimpulannya adalah sebuah kesalehan.

Di masa super modern seperti saat ini manusia sudah dicapekkan dengan berbagai kompleksitas kehidupan sehingga tidak memiliki waktu cukup untuk menukik ke tingkat hakekat apalagi marifat. Pragmatisme dan hedonisme mengantarkan manusia untuk mencari yang paling praktis dan paling enak. Tanpa harus berpikir apakah hal-hal tersebut memberikan manfaat atau tidak.

Tidak heran bila dalam kenyataan siswa dan mahasiswa lebih suka nyontek dibanding belajar. Yang penting nilainya bagus meski kenyataannya tidak becus. Ada politisi lebih suka mengambil jalan pintas meskipun tidak pantas. Ada pula pegawai yang mengamini korupsi meski bertentangan dengan hak asasi.

Dengan demikian sebuah capaian yang tertinggi akhirnya hanya terukur pada kenyataan-kenyataan yang bersifat lahiriah. Orang dinilai pandai manakala semua nilainya A. Dermawan adalah yang sering menggelontorkan hartanya buat orang lain. Orang kaya terlihat dari kekayaannya yang menggunung. Pejabat yaitu mereka yang menduduki pangkat tinggi.

Dus, sangat jarang terpikir bahwa orang pandai adalah mereka yang berilmu dan
mengamalkan ilmunya. Dermawan selalu memberikan hartanya dengan penuh keikhlasan. Orang kaya mendapatkan hartanya via jalan yang halal, dan pejabat adalah mereka yang memegang amanah rakyat.

Demikian juga nasib ajaran Idul Qorban atau Idul Adha. Pemahaman yang tercipta dan selalu diulang-ulang dalam khotbah adalah perintah untuk berkorban berupa domba, lembu, unta, dan lainnya. Agama mengajarkan hal tersebut agar manusia tidak lupa untuk berkorban. Setelah itu, sang ustadz dengan gayanya yang elegan menuntun sapi bersama sang penyumbang ke tempat penyembelihan.

Sebelumnya, klik klik klik, acara foto bersama kambing, lembu dan onta yang akan dikorbankan. Lebih norak lagi, sehari sebelum hari H, para kambing dan lembu tersebut ditulisi dengan spidol besar nama orang yang berkorban. Jadilah ada lembu Muhamad, kambing Achmad, onta Fulan, atau domba Abdullah.

Kebanggaan akan muncul manakala banyak mata memandang siapa mengorbankan apa. Makin besar nilai korbannya, makin mantap jiwa keimanannya. Bahkan, biar kelihatan terpandang, maka ada yang melakukan korban keroyokan, satu sapi dibagi enam atau delapan. Dan, sang penyembelih harus menyebut berbagai nama dimaksud sebelum meletakkan pisaunya di leher sang sapi.

Anggota panitia korban adalah orang yang berhak mendapatkan dagingnya, sehingga pada tataran ini, mereka mengambil untuk pertama kali. Tentu bukan di bagian ujung kaki, melainkan di bagian-bagian yang paling berisi. Sang empunya hewan korban juga sudah menunggu di sampingnya. Biasanya mereka membawa bagian paha atas korban dimaksud.

Akhirnya, fakir miskin, muallaf, dan para musafir yang menurut agama dinilai pihak yang paling berhak hanya kebagian daging plus lemak plus tulang belulang.

Setelah acara ritual korban terjadilah pesta pora: mereka yang menerima daging korban, panitia pelaksana, ataupun pihak yang berkorban. Ada sate, gule, tongseng, dan lainnya.

Bahkan, kadang ada juga yang sambil makan sate meminum minuman keras, katanya biar pas, seperti orang barat (makan daging sambil minum red wine). Dapat dipastikan, pada dua hari mulai hari H, tukang sate dan lainnya terpaksa cuti menjual dagangannya.

Dengan pemahaman yang sangat cetek seperti itu sangat bisa dipastikan bahwa nilai-nilai pengorbanan yang menjadi ajaran setiap agama tidak atau jauh menyentuh dalam kehidupan keseharian. Semua berhenti pada tingkatan ritual, kenyataan dan syariat.

Tidak heran, bila seminggu setelah Idul Adha, ketika tetangga kesakitan dan perlu biaya, mereka pura-pura tidak tahu. Ketika saudaranya mendapat musibah rasa iba pun tidak muncul. Dan manakala ada musibah bencana alam, alih-alih menyumbang, biasanya hanya pandai mengkritik mestinya begini dan begitu.

Orang menjadi lupa bahwa pengorbanan adalah suatu ajaran untuk memberikan yang tebaik yang dimilikinya. Karenanya Tuhan mencontohkan Ibrahim menyembelih Ismail, anaknya yang paling disayanginya. Bukan hanya berkorban dengan pakaian bekas layak pakai, menyumbang dengan uang receh, dan memberi buku bekas kepada anak yatim.

Orang pun menjadi tidak mengerti lagi bahwa yang penting dalam korban bukanlah iklan di tv dan media cetak. Melainkan sebuah upaya syukur atas nikmat Tuhan agar dirinya terus menerus mendekat kepada sang pemilik kehidupan.

Bahwa yang dilihat Tuhan bukan kambingnya tetapi imannya. Bahwa yang penting penyertaan iman dalam pengorbanan, bukan besar kecilnya korban. Bahwa jiwa multiplayer effects pengorbanan harus berkobar dari waktu ke waktu tanpa henti, berkesinambungan, sustainable, dan semakin besar.

Manakala kita semua terjebak dalam ritualisme syariat ajaran korban maka manfaat korban hanya sampai pada perut yang membuncit dan akan lenyap dalam hitungan jam dan hari. Setelah itu, semua back to basic dan tidak banyak manfaat yang bisa dipetik. Naudubillahi min dzalik.

M Aji Surya
Katelniceskaya Neberisnaya 82 Moskow
ajisurya@deplu.go.id
+79250718648

Penulis adalah diplomat Indonesia di KBRI Moskow, alumnus UII, UGM, UI, dan Pondok Modern Gontor.

*Tulisan dikutip dari bagian surat pembaca di detik.com

http://tausiyah.net63.net/?tag=qurban

Risalah Kurban

Oase Ilmu - Monday, 26 July 2004

KURBAN
Kurban berasal dari bahasa Arab, yaitu al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai taqarrub kepada Allah.

SYARIAT KURBAN
Allah SWT telah mensyariatkan kurban dengan firman-Nya,
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus." (Al-Kautsar: 1 - 3).

"Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagai syiar Allah. Kamu banyak memperoleh kebaikan dari padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya." (Al-Hajj: 36).

KEUTAMAAN KURBAN
Dari Aisyah ra, Nabi saw bersabda,
"Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan Kurban. Sesungguhnya hewan Kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah Kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) Kurban itu." (HR Tirmidzi).

HUKUM KURBAN
Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang mampu melakukannya lalu ia meninggalkan hal itu, maka ia dihukumi makruh.

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw pernah berkurban dengan dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).

Dari Ummu Salamah ra, Nabi saw bersabda,

"Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya." HR Muslim

Arti sabda Nabi saw, " …ingin berkorban…" adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, bukan wajib.

Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan kurban untuk keluarga mereka berdua, lantaran keduanya takut jika perihal kurban itu dianggap wajib.

HIKMAH KURBAN
Ibadah kurban disyariatkan Allah untuk mengenang Nabi Ibrahim as dan sebagai suatu upaya untuk memberikan kemudahan pada hari Id, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw,

"Hari-hari itu tidak lain adalah hari-hari untuk makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla."

BINATANG YANG DIPERBOLEHKAN UNTUK KURBAN
Binatang yang boleh untuk kurban adalah onta, sapi (kerbau) dan kambing.

Untuk selain yang tiga jenis ini tidak diperbolehkan. Allah SWT berfirman,

"… supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka." (Al-Hajj: 34).

Dan dianggap memadai berkurban dengan domba yang berumur setengah tahun, kambing jawa yang berumur satu tahun, sapi yang berumur dua tahun, dan unta yang berumur lima tahun, baik itu jantan atau betina. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis di bawah ini:

Dari Abu Hurairah ra berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,
"Binatang kurban yang paling bagus adalah kambing yang jadza' (powel/berumur satu tahun)." (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Dari Uqbah bin Amir ra, aku berkata, wahai Rasulullah saw, aku mempunyai jadza', Rasulullah saw menjawab, "Berkurbanlah dengannya." (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Jabir ra, Rasulullah saw bersabda, "Janganlah kalian mengurbankan binatang

kecuali yang berumur satu tahun ke atas, jika itu menyulitkanmu, maka sembelihlah domba Jadza'."

BERKORBAN DENGAN KAMBING YANG DIKEBIRI
Boleh-boleh saja berkurban dengan kambing yang dikebiri. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Rafi', bahwa Rasulullah saw berkurban dengan dua ekor kambing kibasy yang keduanya berwarna putih bercampur hitam lagi dikebiri. Karena dagingnya lebih enak dan lebih lezat.

BINATANG-BINATANG YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN UNTUK KURBAN Syarat binatang yang untuk kurban adalah bintang yang bebas dari aib (cacat).

Karena itu, tidak boleh berkurban dengan binatang yang aib seperti di bawah ini:

Yang penyakitnya terlihat dengan jelas.
Yang picak dan jelas terlihat kepicakannya.
Yang pincang sekali.
Yang sumsum tulangnya tidak ada, karena kurus sekali.
Rasulullah saw bersabda,
"Ada empat penyakit pada binatang kurban yang dengannya kurban itu tidak mencukupi. Yaitu yang picak dengan kepicakannya yang nampak sekali, dan yang sakit dan penyakitnya terlihat sekali, yang pincang sekali, dan yang kurus sekali." (HR Tirmidzi seraya mengatakan hadis ini hasan sahih).

Yang cacat, yaitu yang telinga atau tanduknya sebagian besar hilang.
Selain binatang lima di atas, ada binatang-binatang lain yang tidak boleh untuk kurban, yaitu:

Hatma' (ompong gigi depannya, seluruhnya). Ashma' (yang kulit tanduknya pecah). Umya' (buta). Taula' (yang mencari makan di perkebunan, tidak digembalakan).
Jarba' (yang banyak penyakit kudisnya).
Juga tidak mengapa berkurban dengan binatang yang tak bersuara, yang buntutnya terputus, yang bunting, dan yang tidak ada sebagian telinga atau sebagian besar bokongnya tidak ada. Menurut yang tersahih dalam mazhab Syafi'i, bahwa yang bokong/pantatnya terputus tidak mencukupi, begitu juga yang puting susunya tidak ada, karena hilangnya sebagian organ yang dapat dimakan. Demikian juga yang ekornya terputus. Imam Syafi'i berkata, "Kami tidak memperoleh hadis tentang gigi sama sekali."

WAKTU PENYEMBELIHAN
Untuk kurban disyaratkan tidak disembelih sesudah terbit matahari pada hari 'Iduladha.

Sesudah itu boleh menyembelihnya di hari mana saja yang termasuk hari-hari Tasyrik, baik malam ataupun siang. Setelah tiga hari tersebut tidak ada lagi waktu penyembelihannya.

Dari al-Barra' ra Nabi saw bersabda,
"Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini (Iduladha) adalah kita salat, kemudian kita kembali dan memotong kurban. Barangsiapa melakukan hal itu, berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum itu, maka sembelihan itu tidak lain hanyalah daging yang ia persembahkan kepada keluarganya yang tidak termasuk ibadah kurban sama sekali."

Abu Burdah berkata,
"Pada hari Nahar, Rasulullah saw berkhotbah di hadapan kami, beliau bersabda: 'Barangsiapa salat sesuai dengan salat kami dan menghadap ke kiblat kami, dan beribadah dengan cara ibadah kami, maka ia tidak menyembelih kirban sebelum ia salat'."

Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw bersabda,
"Barangsiapa yang menyembelih sebelum salat, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah salat dan khotbah, sesungguhnya ia telah sempurnakan dan ia mendapat sunnah umat Islam." (HR Bukhari dan Muslim).

BERGABUNG DALAM BERKURBAN
Dalam berkurban dibolehkan bergabung jika binatang korban itu berupa onta atau sapi (kerbau).

Karena, sapi (kerbau) atau unta berlaku untuk tujuh orang jika mereka semua bermaksud berkurban dan bertaqarrub kepada Allah SWT.

Dari Jabir ra berkata,
"Kami menyembelih kurban bersama Nabi saw di Hudaibiyyah seekor unta untuk tujuh orang, begitu juga sapi (kerbau)."
(HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)

PEMBAGIAN DAGING KURBAN
Disunahkan bagi orang yang berkurban memakan daging kurbannya, menghadiahkannya kepada para kerabat, dan menyerahkannya kepada orang-orang fakir.

Rasulullah saw bersabda,

"Makanlah dan berilah makan kepada (fakir-miskin) dan simpanlah."

Dalam hal ini para ulama mengatakan, yang afdhal adalah memakan daging itu sepertiga, menyedekahkannya sepertiga dan menyimpannya sepertiga.

Daging kurban boleh diangkut (dipindahkan) sekalipun ke negara lain. Akan tetapi, tidak boleh dijual, begitu pula kulitnya. Dan, tidak boleh memberi kepada tukang potong daging sebagai upah. Tukang potong berhak menerimanya sebagai imbalan kerja. Orang yang berkurban boleh bersedekah dan boleh mengambil kurbannya untuk dimanfaatkan (dimakan).

Menurut Abu Hanifah, bahwa boleh menjual kulitnya dan uangnya disedekahkan atau dibelikan barang yang bermanfaat untuk rumah.

ORANG YANG BERKURBAN MENYEMBELIHNYA SENDIRI
Orang yang berkorban yang pandai menyembelih disunahkan menyembelih sendiri binatang kurbannya.

Ketika menyembelih disunahkan membaca,

"Bismillahi Allahu Akbar, Allahumma haadza 'an…" (Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, ya Allah kurban ini dari …[sebutkan namanya]).

Karena, Rasulullah saw menyembelih seekor kambing kibasy dan membaca,

"Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma haadza 'anni wa'an man lam yudhahhi min ummati" (Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar, Ya Allah sesungguhnya (kurban) ini dariku dan dari umatku yang belum berkurban)." (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Jika orang yang berkurban tidak pandai menyembelih, hendaknya dia menghadiri dan menyaksikan penyembelihannya.

Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, Rasulullah saw bersabda,

"Wahai Fatimah, bangunlah. Dan saksikanlah kurbanmu. Karena, setetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kau lakukan. Dan bacalah: 'Sesungguhnya salatku, ibadahku - korbanku - hidupku, dan matiku untuk Allah Tuhan semesta Alam. Dan untuk itu aku diperintah. Dan aku adalah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah,'

Seorang sahabat lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah saw, apakah ini untukmu dan khusus keluargamu atau untuk kaum muslimin secara umum?' Rasulullah saw menjawab, 'Bahkan untuk kaum muslimin umumnya'."

Referensi:
1. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

2. Bidaayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd

3. Al-Muhadzdzab fi Fiqh Madzhabil Imam as- Syafi'i, Abu Ishaaq as-Syiraazi
Sumber: Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=380

Rabu, 25 November 2009

Selamat Idhul Adha

Rabu, 18 November 2009

Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Anak

Prestasi dalam belajar merupakan dambaan bagi setiap orangtua terhadap anaknya. Prestasi yang baik tentu akan didapat dengan proses belajar yang baik juga. Belajar merupakan proses dari sesuatu yang belum bisa menjadi bisa, dari perilaku lama ke perilaku yang baru, dari pemahaman lama ke pemahaman baru.

Dalam proses belajar, hal yang harus diutamakan adalah bagaimana anak dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan rangsangan yang ada, sehingga terdapat reaksi yang muncul dari anak.

Reaksi yang dilakukan merupakan usaha untuk menciptakan kegiatan belajar sekaligus menyelesaikannya. Sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang mengakibatkan perubahan pada anak sebagai hal baru serta menambah pengetahuan.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa belajar merupakan kegiatan penting baik untuk anak-anak, bahkan juga untuk orang dewasa sekalipun.

Perlunya perhatian faktor lingkungan dapat mempengaruhi proses belajar. Suasana yang nyaman dan kondusif mengakibatkan proses belajar akan menjadi lebih baik. Termasuk juga keaktifan proses mental untuk sering dilatih, sehingga nantinya menjadi suatu kegiatan yang terbiasa.

Banyak sekali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar atau prestasi belajar. Orangtua pun perlu untuk mengetahui apa saja faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar pada anak mereka, sehingga orangtua dapat mengenali penyebab dan pendukung anak dalam berprestasi. Berikut adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan:

FAKTOR DARI DALAM DIRI

Kesehatan
Apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala, pilek, deman dan lain-lain, maka hal ini dapat membuat anak tidak bergairah untuk mau belajar. Secara psikologi, gangguan pikiran dan perasaan kecewa karena konflik juga dapat mempengaruhi proses belajar.

Intelegensi
Faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan belajar anak. Menurut Gardner dalam teori Multiple Intellegence, intelegensi memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestetik fisik, sosial interpersonal dan intrapersonal.

Minat dan motivasi
Minat yang besar terhadap sesuatu terutama dalam belajar akan mengakibatkan proses belajar lebih mudah dilakukan. Motivasi merupakan dorongan agar anak mau melakukan sesuatu. Motivasi bisa berasal dari dalam diri anak ataupun dari luar lingkungan

Cara belajar
Perlu untuk diperhatikan bagaimana teknik belajar, bagaimana bentuk catatan buku, pengaturan waktu belajar, tempat serta fasilitas belajar.

FAKTOR DARI LINGKUNGAN

Keluarga
Situasi keluarga sangat berpengaruh pada keberhasilan anak. Pendidikan orangtua, status ekonomi, rumah, hubungan dengan orangtua dan saudara, bimbingan orangtua, dukungan orangtua, sangat mempengaruhi prestasi belajar anak.

Sekolah
Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat kelas, relasi teman sekolah, rasio jumlah murid per kelas, juga mempengaruhi anak dalam proses belajar.

Masyarakat
Apabila masyarakat sekitar adalah masyarakat yang berpendidikan dan moral yang baik, terutama anak-anak mereka. Hal ini dapat sebagai pemicu anak untuk lebih giat belajar.

Lingkungan sekitar
Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas dan iklim juga dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar.

Dari sekian banyak faktor yang harus diperhatikan, tentu tidak ada situasi 100% yang dapat dilakukan secara keseluruhan dan sempurna. Tetapi berusaha untuk memenuhinya sesempurna mungkin bukanlah faktor yang mustahil untuk dilakukan.

http://www.psikologizone.com/faktor-yang-mempengaruhi-prestasi-belajar-anak

Jumat, 06 November 2009

Keyakinan Berbuah Gumati

Keyakinan Berbuah Gumati

Keyakinan adalah kunci keberhasilan. Kata-kata itulah yang selalu ditanamkan Ganis Gumati Anandadin, 13 tahun yang lalu. Kala itu, saudaranya yang bermukim di Beos, Jakarta Kota, menawarinya untuk mendirikan “warteg” di daerah Bogor, karena wartegnya yang berada di Beos digusur. Tak pernah terpikirkan oleh ibu tiga anak itu untuk mendirikan warteg sebelumnya. Dengan modal keyakinan, akhirnya ia pun setuju.

Survey tempat pun dilakukan. Akhirnya mereka mendapatkan tempat yang lumayan bagus, di Universitas Pakuan Bogor. Sedikit demi sedikit, usahanya mengalami perkembangan. “Tujuh tahun kemudian, kami mencoba mengembangkan sayap dengan membuka “cafe” non alcohol. Namanya Gumati Café, terletak di Jalan Paledang, Bogor. Basisnya tetap pada makanan dan minuman,” ujar Alumnus ESQ Eksekutif angkatan 35 itu.

Usahanya mengalami perkembangan pesat sampai akhirnya mereka mendirikan usaha yang sama namun dalam ukuran yang lebih besar. Desa Gumati namanya. Restoran ini berada di daerah Sentul, Bogor. Sama dengan yang terdahulu, bisnis ini pun berjalan cepat. “Gumati berasal dari bahasa Sunda. Artinya kasih sayang, hati-hati, teliti dan cinta,” kata anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Tak berhenti sampai di situ, Ganis bersama suaminya, Mulyatma Soepardi mendirikan usaha yang lebih besar, pada 9 Juni 2006. Nebula (eks ESQ Magazine -red) sempat diundang untuk launching perdananya. “Yang paling berperan dalam usaha ini tentunya suami saya. Dialah yang paling gigih dengan usaha dan doanya, sehingga Gumati dapat seperti ini. Kami bersyukur, dengan segala kemurahanNya, Waroeng Gumati telah beroperasi,” tambah ibu tiga anak itu.

Gumati selalu menampilkan nuansa yang berbeda di setiap cabangnya. Gumati Café khas dengan pemandangan Gunung Salak dan lembahnya. Desa Gumati bernuansa resor dan suara air sungai. Waroeng Gumati bernuansa Bali modern serta panorama bukit yang berada di daerah Ciawi, Puncak, Bogor.

Untuk yang terakhir, tergolong cukup istimewa. Bangunannya didesain seperti arsitektur Bali. Gedung berlantai dua itu berada di dataran tinggi, sehingga pengunjung bisa melihat pemandangan indah. Di kejauhan, eloknya Gunung Geulis bisa dijadikan hiburan sekaligus renungan. “Apalagi malam hari, kita bisa melihat lampu-lampu di bawah sana. Ada orang yang bilang kalau warung ini kayak Las Vegas,” tambahnya.

Warung yang berada di pinggir jalan menuju Puncak itu mempekerjakan 50 orang karyawan. Waktu kerja terbagi menjadi dua shift. Ada pun menu yang mereka hidangkan selain masakan tradisional, adalah masakan Eropa dan Cina. “Meski baru dibuka, pengunjung warung ini selalu ramai,” kata lulusan FMIPA Universitas Pakuan, Bogor itu.

“Inilah buah dari keyakinan dan kepasrahan kepadaNya. Kami sadar tanpa izinNya usaha ini tidak dapat berjalan dengan baik dan berkembang. Puji syukur yang amat besar kepada Allah yang telah membukakan jalan dan kesempatan ini kepada keluarga kami. Karena kami sadar, kami tidak ada dasar keterampilan atau sekolah untuk usaha ini. Suami saya seorang notaris,” kata Ganis. (hanafi)

* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 20/Thn II/2006

http://www.esqway165.com/2009/10/30/keyakinan-berbuah-gumati/

Belajar Buat Film