Keyakinan Berbuah Gumati
Keyakinan adalah kunci keberhasilan. Kata-kata itulah yang selalu ditanamkan Ganis Gumati Anandadin, 13 tahun yang lalu. Kala itu, saudaranya yang bermukim di Beos, Jakarta Kota, menawarinya untuk mendirikan “warteg” di daerah Bogor, karena wartegnya yang berada di Beos digusur. Tak pernah terpikirkan oleh ibu tiga anak itu untuk mendirikan warteg sebelumnya. Dengan modal keyakinan, akhirnya ia pun setuju.
Survey tempat pun dilakukan. Akhirnya mereka mendapatkan tempat yang lumayan bagus, di Universitas Pakuan Bogor. Sedikit demi sedikit, usahanya mengalami perkembangan. “Tujuh tahun kemudian, kami mencoba mengembangkan sayap dengan membuka “cafe” non alcohol. Namanya Gumati Café, terletak di Jalan Paledang, Bogor. Basisnya tetap pada makanan dan minuman,” ujar Alumnus ESQ Eksekutif angkatan 35 itu.
Usahanya mengalami perkembangan pesat sampai akhirnya mereka mendirikan usaha yang sama namun dalam ukuran yang lebih besar. Desa Gumati namanya. Restoran ini berada di daerah Sentul, Bogor. Sama dengan yang terdahulu, bisnis ini pun berjalan cepat. “Gumati berasal dari bahasa Sunda. Artinya kasih sayang, hati-hati, teliti dan cinta,” kata anak pertama dari tiga bersaudara itu.
Tak berhenti sampai di situ, Ganis bersama suaminya, Mulyatma Soepardi mendirikan usaha yang lebih besar, pada 9 Juni 2006. Nebula (eks ESQ Magazine -red) sempat diundang untuk launching perdananya. “Yang paling berperan dalam usaha ini tentunya suami saya. Dialah yang paling gigih dengan usaha dan doanya, sehingga Gumati dapat seperti ini. Kami bersyukur, dengan segala kemurahanNya, Waroeng Gumati telah beroperasi,” tambah ibu tiga anak itu.
Gumati selalu menampilkan nuansa yang berbeda di setiap cabangnya. Gumati Café khas dengan pemandangan Gunung Salak dan lembahnya. Desa Gumati bernuansa resor dan suara air sungai. Waroeng Gumati bernuansa Bali modern serta panorama bukit yang berada di daerah Ciawi, Puncak, Bogor.
Untuk yang terakhir, tergolong cukup istimewa. Bangunannya didesain seperti arsitektur Bali. Gedung berlantai dua itu berada di dataran tinggi, sehingga pengunjung bisa melihat pemandangan indah. Di kejauhan, eloknya Gunung Geulis bisa dijadikan hiburan sekaligus renungan. “Apalagi malam hari, kita bisa melihat lampu-lampu di bawah sana. Ada orang yang bilang kalau warung ini kayak Las Vegas,” tambahnya.
Warung yang berada di pinggir jalan menuju Puncak itu mempekerjakan 50 orang karyawan. Waktu kerja terbagi menjadi dua shift. Ada pun menu yang mereka hidangkan selain masakan tradisional, adalah masakan Eropa dan Cina. “Meski baru dibuka, pengunjung warung ini selalu ramai,” kata lulusan FMIPA Universitas Pakuan, Bogor itu.
“Inilah buah dari keyakinan dan kepasrahan kepadaNya. Kami sadar tanpa izinNya usaha ini tidak dapat berjalan dengan baik dan berkembang. Puji syukur yang amat besar kepada Allah yang telah membukakan jalan dan kesempatan ini kepada keluarga kami. Karena kami sadar, kami tidak ada dasar keterampilan atau sekolah untuk usaha ini. Suami saya seorang notaris,” kata Ganis. (hanafi)
* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 20/Thn II/2006
http://www.esqway165.com/2009/10/30/keyakinan-berbuah-gumati/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar