Ayah Jundi dan Fadhil
Berusaha jadi Ayah yang baik ...
Jumat, 04 Mei 2012
Senin, 17 Januari 2011
Kebohongan
Kata "kebohongan" sepertinya lagi dibicarakan banyak orang. Terlepas benar atau salahnya apa yang mereka katakan.
Bohong adalah pernyataan yang salah dibuat oleh seseorang dengan tujuan pendengar percaya. Fiksi meskipun salah, tetapi bukan bohong. Orang yang berbicara bohong dan terutama orang yang mempunyai kebiasaan berbohong disebut pembohong.
Garis antara kebohongan dan kebenaran sangatlah tipis. Sebuah contoh: jika seorang tetangga saya menyatakan bahwa ia merupakan keturunan Tsar Rusia; Nikolai II, maka bisa dikatakan ia berbohong. Kebohongannya bisa dibuktikan dengan sebuah penelitian DNA, dan selain itu kita semua tahu bahwa Tsar Nikolai II beserta keluarganya sudah dibantai habis oleh kaum komunis. Namun jika ia berkata bahwa ia masih keturunan Rusia, mungkin saja ia benar. Siapa tahu nenek moyangnya memang benar ada yang berasal dari Rusia.
Pada sebuah kebohongan ada pula unsur kesengajaan. Jika seseorang berkata bahwa ia merupakan seorang profesor padahal bukan, maka ia sengaja melakukannya untuk pamer. Hal ini merupakan sebuah kebohongan. Namun jika seorang anggota CIA berkata bahwa Osama bin Laden menurut data-datanya berada di Pakistan, padahal tidak, maka ini namanya kesalahan dan bukan kebohongan. Kecuali ia melakukannya dengan sengaja sebagai sebuah siasat, maka namanya adalah taktik disinformasi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bohong
Kalau kita mau jujur sebagai makhluk pribadi/individu, kita sepetinya juga sering bohong. Berbohong pada diri sendiri, berbohong pada hati nurani. Sebagai orang tua kita tanpa disadari juga pernah bohong sama suami/istri termasuk anak-anak. Sebagai seorang pegawai, karyawan, majikan, bos, bisa jadi kita pernah berbohong juga dengan atasan, pimpinan, pembantu, bawahan. Sebagai makhluk soaial kita juga mungkin pernah berbohong dengan orang lain, teman kerja, tetangga, bahkan saudara atau orang tua kita sendiri. Yang pasti kita tidak bisa berbohong dengan Yang Maha Tahu, Allah SWT. Allah pasti tahu apa yang sudah, akan, dan sedang kita lakukan. Allah juga akan meminta pertanggungjawaban dari apa yang kita lakukan.
Semoga kita semua sadar dari kebohongan yang kita lakukan, dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak mengulanginya lagi. Amin.
Bohong adalah pernyataan yang salah dibuat oleh seseorang dengan tujuan pendengar percaya. Fiksi meskipun salah, tetapi bukan bohong. Orang yang berbicara bohong dan terutama orang yang mempunyai kebiasaan berbohong disebut pembohong.
Garis antara kebohongan dan kebenaran sangatlah tipis. Sebuah contoh: jika seorang tetangga saya menyatakan bahwa ia merupakan keturunan Tsar Rusia; Nikolai II, maka bisa dikatakan ia berbohong. Kebohongannya bisa dibuktikan dengan sebuah penelitian DNA, dan selain itu kita semua tahu bahwa Tsar Nikolai II beserta keluarganya sudah dibantai habis oleh kaum komunis. Namun jika ia berkata bahwa ia masih keturunan Rusia, mungkin saja ia benar. Siapa tahu nenek moyangnya memang benar ada yang berasal dari Rusia.
Pada sebuah kebohongan ada pula unsur kesengajaan. Jika seseorang berkata bahwa ia merupakan seorang profesor padahal bukan, maka ia sengaja melakukannya untuk pamer. Hal ini merupakan sebuah kebohongan. Namun jika seorang anggota CIA berkata bahwa Osama bin Laden menurut data-datanya berada di Pakistan, padahal tidak, maka ini namanya kesalahan dan bukan kebohongan. Kecuali ia melakukannya dengan sengaja sebagai sebuah siasat, maka namanya adalah taktik disinformasi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bohong
Kalau kita mau jujur sebagai makhluk pribadi/individu, kita sepetinya juga sering bohong. Berbohong pada diri sendiri, berbohong pada hati nurani. Sebagai orang tua kita tanpa disadari juga pernah bohong sama suami/istri termasuk anak-anak. Sebagai seorang pegawai, karyawan, majikan, bos, bisa jadi kita pernah berbohong juga dengan atasan, pimpinan, pembantu, bawahan. Sebagai makhluk soaial kita juga mungkin pernah berbohong dengan orang lain, teman kerja, tetangga, bahkan saudara atau orang tua kita sendiri. Yang pasti kita tidak bisa berbohong dengan Yang Maha Tahu, Allah SWT. Allah pasti tahu apa yang sudah, akan, dan sedang kita lakukan. Allah juga akan meminta pertanggungjawaban dari apa yang kita lakukan.
Semoga kita semua sadar dari kebohongan yang kita lakukan, dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak mengulanginya lagi. Amin.
Minggu, 16 Januari 2011
Hati-Hati
Malam itu kami sekeluarga pergi ke kota. Niatnya mau beli obat untuk mengobati sakit mata. Sampai di suatu tempat ada orang habis ambil uang di ATM baru sadar kalau ATM-nya tertelan setelah keluar ruangan. Saya sempat berpikir apa ATM-nya rusak? Pak satpam memberi informasi untuk ibu tersebut. Datanglah besok pagi untuk mengambil ATM yang tertelan. Alhamdulillah di ATM yang satu bisa digunakan.
Sampai di masjid kami sholat Maghrib terlebih dahulu. Beli obat mata, lihat VCD bagus jadi beli juga. Perjalanan pulang selanjutnya. Mau beli apa lagi ya? Akhirnya berhenti di sebuah toko. Kami beli telur, kecap, bedak, dan si kecil minta susu. Termasuk saya beli batu baterai buat jam dinding di rumah (ruang belakang) yang sudah lama mati. Harganya 5.900 (berarti 1.500 per buahnya) kemahalan ndak ya? Batu baterai tetap saya beli. Sampai di kasir dihitung, dibayar, kembalian. Saya tidak sadar kalau tidak dapat struk. Setelah keluar toko saya lihat struk-nya (istri yang minta ke dalam) lho kok harganya beda? Saya penasaran, masuk kembali ke toko menanyakan harga tersebut. Ternyata harga yang tertulis di label rak berbeda. Itu harga lama dan belum diganti, demikian informasinya dari kasir. Kasir minta maaf, sayapun mengiyakan.
Saya punya kesimpulan awal, hati-hati dalam berbelanja. Bisa jadi harga sengaja mamang dibuat berbeda, atau ditambahkan, termasuk di toko lain ada kemungkinan juga. Ya buat pengalaman.
Sampai di masjid kami sholat Maghrib terlebih dahulu. Beli obat mata, lihat VCD bagus jadi beli juga. Perjalanan pulang selanjutnya. Mau beli apa lagi ya? Akhirnya berhenti di sebuah toko. Kami beli telur, kecap, bedak, dan si kecil minta susu. Termasuk saya beli batu baterai buat jam dinding di rumah (ruang belakang) yang sudah lama mati. Harganya 5.900 (berarti 1.500 per buahnya) kemahalan ndak ya? Batu baterai tetap saya beli. Sampai di kasir dihitung, dibayar, kembalian. Saya tidak sadar kalau tidak dapat struk. Setelah keluar toko saya lihat struk-nya (istri yang minta ke dalam) lho kok harganya beda? Saya penasaran, masuk kembali ke toko menanyakan harga tersebut. Ternyata harga yang tertulis di label rak berbeda. Itu harga lama dan belum diganti, demikian informasinya dari kasir. Kasir minta maaf, sayapun mengiyakan.
Saya punya kesimpulan awal, hati-hati dalam berbelanja. Bisa jadi harga sengaja mamang dibuat berbeda, atau ditambahkan, termasuk di toko lain ada kemungkinan juga. Ya buat pengalaman.
Sabtu, 15 Januari 2011
Kamis, 06 Mei 2010
RAIH PRESTASI DENGAN KEJUJURAN
Oleh Bambang pada 2/16/10 • Rubrik Berita
Penyelenggaraan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) dan Ujian Nasional (UN) memerlukan komitmen dan tanggungjawab bersama. Dalam kontek ini prestasi dan kejujuran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Berprestasi tanpa ada kejujuran adalah sia-sia, sedangkan kejujuran tanpa prestasi adalah suatu kemunduran. Jika ada pemerintah daerah yang menargetkan tingkat kelulusannya 90% itu bagus dan sah-sah saja, tetapi yang tidak boleh dilupakan dalam mencapai target itu harus sesuai dengan kejujuran. Jika kejujuran sudah hilang, angka-angka atau nilai itu tidak bermakna karena merupakan nilai semu. Sehingga peta pendidikan yang diperoleh juga semu. Demikian pesan Muhammad Nuh Menteri Pendidikan Nasional dalam rapat koordinasi penyelenggaraan UASBN dan UN di Jakarta (12/02/10).
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh seluruh ketua penyelenggara UASBN dan UN tingkat provinsi, pejabat eselon II dan III di lingkungan Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, Ketua, Sekretaris dan anggota BSNP. Sebagai agenda utama adalah penandatanganan nota kesepahaman tentang dana penyelenggaraan UASBN dan UN. Menurut Mendiknas prinsip kejujuran harus dipegang teguh dalam kondisi apapun. “Mohon dipengang betul prinsip kejujuran ini dan jangan dikorbankan dalam kondisi apapun. Kalau ruh kejujuran hilang, angka-angka atau nilai itu tidak bermakna”, ungkap mantan Rektor ITS tersebut seraya menambahkan tema UASBN dan UN tahun pelajaran 2009/2010 adalah PRESTASI dan JUJUR. Dengan tema tersebut, dalam meraih prestasi, seluruh pemangku kepentingan (pelaku, pelaksana, pengambil kebijakan, dan masyarakat) diharapkan untuk berikhtiar dan menyiapkan diri sebaik mungkin. Sehingga pelaksaan UN lebih credible (dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan), prestasinya memuaskan dengan kejujuran sebagai ruhnya. Lebih lanjut Muhammad Nuh menambahkan jika disuruh memilih mana yang penting jujur atau prestasi, maka jujur jauh lebih baik dari prestasi, tapi yang diinginkan adalah prestasi dan jujur.
Dalam pengarahannya, Menteri Pendidikan Nasional mengingatkan semua peserta rakor bahwa UN dan UASBN merupakan kegiatan tahunan. Namun demikian jika permasalahan yang dihadapi dari tahun ke tahun tetap terjadi dan tidak teratasi artinya kita gagal dalam melakukan pembelajaran. “Kita perlu belajar dari pengalaman dan kesalahan-kesalahan yang ada jika ingin meningkatkan kualitas UASBN dan UN”, ujar mantan Menteri Komunikasi dan Informasi pada masa kabinet bersatu I.
Melalui forum koordinasi ini Mendiknas berharap supaya terjadi proses berbagi pengalaman antar provinsi dalam penyelenggaraan UASBN dan UN. Dengan demikian masalah yang terjadi di satu provinsi tidak terulang lagi di provinsi lain. Untuk itu salah satu cara yang harus kita lakukan adalah bersikap terbuka (open minded). “Kita harus terbuka terhadap masukan, saran, dan kritik yang konstruktif dengan tidak menutup-nutupi kelemahan yang ada. Kalau ini kita lakukan, insya Allah kita bisa melakukan perbaikan”, pesan Mendiknas.
Dalam pengarahannya Mendiknas juga menjelaskan meskipun ada kontraversi tentang penyelenggaraan UN, payung hukum penyelenggaraan UN sangat jelas. Oleh karena itu penyelenggaraan UN harus sahih sehingga hasil yang dicapai juga sahih (valid).
Sementara itu Ketua BSNP Djemari Mardapi menjelaskan UN Utama SMA/MA, SMALB, dan SMK diselenggarakan dari tanggal 22 sampai dengan 26 Maret 2010, UN Susulan dari tanggal 29 Maret sampai dengan 5 April, dan UN Ulangan dari tanggal 10 sampai dengan 14 Mei 2010. Sedangkan UN Utama untuk SMP/MTs dan SMPLB dilaksanakan dari tanggal 29 Maret sampai dengan 1 April 2010, UN Susulan dari tanggal 5 sampai dengan 8 April 2010, dan UN Ulangan dari tanggal 17 sampai dengan 20 Mei 2010. Menurut Ketua BSNP UN SUsulan diberikan bagi peserta didik yang saat pelaksanaan UN Utama berhalangan karena sakit dan alasan lain dengan surat keterangan yang dapat dipertanggungajwabkan.
Ada beberapa perbedaan dalam penyelenggaraan UN tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2009. “Tahun ini ada UN Ulangan bagi peserta yang belum lulus UN Utama. Peserta yang ikut uji9an ulangan dapat menempuh semua atau sebagian mata pelajaran yang nilainya kurang dari 5.50. Bagi mereka nilai yang digunakan untuk menentukan kelulusan adalah nilai yang tertinggi. Semua nilai tersebut baik UN Utama maupun UN Ulangan tertera di dalam transkrip nilai”, ungkap Djemari Mardapi seraya menambahkan pada tahun 2010 ini pula jeda waktu antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya adalah satu jam mengingat jeda waktu tiga puluh menit pada tahun lalu dirasa tidak cukup.
Lebih lanjut menurut Djemari ada dua alasan mengapa UN tahun pelajaran 2009/2010 dimajukan. Pertama, pada tahun ini UN dilaksanakan dua kali, yaitu UN Utama dan UN Ulangan. Kedua, untuk memberi kesempatan kepada peserta UN Ulangan untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi pada tahun yang sama.
Dalam acara dialog dan tanya jawab ketua penyelenggara UN dari Jawa Timur mengungkapkan pemerintah daerah Jawa Timur sepakat melakukan ikrar bersama untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan UASBN dan UN tahun pelajaran 2009/2010. “Ada surat edaran dari Gubernur kepada Bupati/Walikota untuk melaksanakan ikrar bersama sebagai upaya untuk menyelenggaraan UASBN dan UN yang jujur dan kredibel sehingga prestasi dan mutu pendidikan meningkat”, ungkap Zainal Arifin sambil mengajak semua peserta dari provinsi lain untuk dapat mengikuti terobosan yang dilakukan Pemerintah Daerah Jawa Timur.
http://bsnp-indonesia.org/id/?p=580
Penyelenggaraan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) dan Ujian Nasional (UN) memerlukan komitmen dan tanggungjawab bersama. Dalam kontek ini prestasi dan kejujuran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Berprestasi tanpa ada kejujuran adalah sia-sia, sedangkan kejujuran tanpa prestasi adalah suatu kemunduran. Jika ada pemerintah daerah yang menargetkan tingkat kelulusannya 90% itu bagus dan sah-sah saja, tetapi yang tidak boleh dilupakan dalam mencapai target itu harus sesuai dengan kejujuran. Jika kejujuran sudah hilang, angka-angka atau nilai itu tidak bermakna karena merupakan nilai semu. Sehingga peta pendidikan yang diperoleh juga semu. Demikian pesan Muhammad Nuh Menteri Pendidikan Nasional dalam rapat koordinasi penyelenggaraan UASBN dan UN di Jakarta (12/02/10).
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh seluruh ketua penyelenggara UASBN dan UN tingkat provinsi, pejabat eselon II dan III di lingkungan Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, Ketua, Sekretaris dan anggota BSNP. Sebagai agenda utama adalah penandatanganan nota kesepahaman tentang dana penyelenggaraan UASBN dan UN. Menurut Mendiknas prinsip kejujuran harus dipegang teguh dalam kondisi apapun. “Mohon dipengang betul prinsip kejujuran ini dan jangan dikorbankan dalam kondisi apapun. Kalau ruh kejujuran hilang, angka-angka atau nilai itu tidak bermakna”, ungkap mantan Rektor ITS tersebut seraya menambahkan tema UASBN dan UN tahun pelajaran 2009/2010 adalah PRESTASI dan JUJUR. Dengan tema tersebut, dalam meraih prestasi, seluruh pemangku kepentingan (pelaku, pelaksana, pengambil kebijakan, dan masyarakat) diharapkan untuk berikhtiar dan menyiapkan diri sebaik mungkin. Sehingga pelaksaan UN lebih credible (dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan), prestasinya memuaskan dengan kejujuran sebagai ruhnya. Lebih lanjut Muhammad Nuh menambahkan jika disuruh memilih mana yang penting jujur atau prestasi, maka jujur jauh lebih baik dari prestasi, tapi yang diinginkan adalah prestasi dan jujur.
Dalam pengarahannya, Menteri Pendidikan Nasional mengingatkan semua peserta rakor bahwa UN dan UASBN merupakan kegiatan tahunan. Namun demikian jika permasalahan yang dihadapi dari tahun ke tahun tetap terjadi dan tidak teratasi artinya kita gagal dalam melakukan pembelajaran. “Kita perlu belajar dari pengalaman dan kesalahan-kesalahan yang ada jika ingin meningkatkan kualitas UASBN dan UN”, ujar mantan Menteri Komunikasi dan Informasi pada masa kabinet bersatu I.
Melalui forum koordinasi ini Mendiknas berharap supaya terjadi proses berbagi pengalaman antar provinsi dalam penyelenggaraan UASBN dan UN. Dengan demikian masalah yang terjadi di satu provinsi tidak terulang lagi di provinsi lain. Untuk itu salah satu cara yang harus kita lakukan adalah bersikap terbuka (open minded). “Kita harus terbuka terhadap masukan, saran, dan kritik yang konstruktif dengan tidak menutup-nutupi kelemahan yang ada. Kalau ini kita lakukan, insya Allah kita bisa melakukan perbaikan”, pesan Mendiknas.
Dalam pengarahannya Mendiknas juga menjelaskan meskipun ada kontraversi tentang penyelenggaraan UN, payung hukum penyelenggaraan UN sangat jelas. Oleh karena itu penyelenggaraan UN harus sahih sehingga hasil yang dicapai juga sahih (valid).
Sementara itu Ketua BSNP Djemari Mardapi menjelaskan UN Utama SMA/MA, SMALB, dan SMK diselenggarakan dari tanggal 22 sampai dengan 26 Maret 2010, UN Susulan dari tanggal 29 Maret sampai dengan 5 April, dan UN Ulangan dari tanggal 10 sampai dengan 14 Mei 2010. Sedangkan UN Utama untuk SMP/MTs dan SMPLB dilaksanakan dari tanggal 29 Maret sampai dengan 1 April 2010, UN Susulan dari tanggal 5 sampai dengan 8 April 2010, dan UN Ulangan dari tanggal 17 sampai dengan 20 Mei 2010. Menurut Ketua BSNP UN SUsulan diberikan bagi peserta didik yang saat pelaksanaan UN Utama berhalangan karena sakit dan alasan lain dengan surat keterangan yang dapat dipertanggungajwabkan.
Ada beberapa perbedaan dalam penyelenggaraan UN tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2009. “Tahun ini ada UN Ulangan bagi peserta yang belum lulus UN Utama. Peserta yang ikut uji9an ulangan dapat menempuh semua atau sebagian mata pelajaran yang nilainya kurang dari 5.50. Bagi mereka nilai yang digunakan untuk menentukan kelulusan adalah nilai yang tertinggi. Semua nilai tersebut baik UN Utama maupun UN Ulangan tertera di dalam transkrip nilai”, ungkap Djemari Mardapi seraya menambahkan pada tahun 2010 ini pula jeda waktu antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya adalah satu jam mengingat jeda waktu tiga puluh menit pada tahun lalu dirasa tidak cukup.
Lebih lanjut menurut Djemari ada dua alasan mengapa UN tahun pelajaran 2009/2010 dimajukan. Pertama, pada tahun ini UN dilaksanakan dua kali, yaitu UN Utama dan UN Ulangan. Kedua, untuk memberi kesempatan kepada peserta UN Ulangan untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi pada tahun yang sama.
Dalam acara dialog dan tanya jawab ketua penyelenggara UN dari Jawa Timur mengungkapkan pemerintah daerah Jawa Timur sepakat melakukan ikrar bersama untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan UASBN dan UN tahun pelajaran 2009/2010. “Ada surat edaran dari Gubernur kepada Bupati/Walikota untuk melaksanakan ikrar bersama sebagai upaya untuk menyelenggaraan UASBN dan UN yang jujur dan kredibel sehingga prestasi dan mutu pendidikan meningkat”, ungkap Zainal Arifin sambil mengajak semua peserta dari provinsi lain untuk dapat mengikuti terobosan yang dilakukan Pemerintah Daerah Jawa Timur.
http://bsnp-indonesia.org/id/?p=580
Jumat, 18 Desember 2009
Semut vs Gajah: Refleksi Menjelang Tahun Baru Hijrah

Belakangan ini nurani kita terusik oleh berbagai fenomena anomali sosial, politik, dan hukum yang dinilai telah mengebiri nasib rakyat kecil. Masih jelas terbayang dalam layar memori kita sebuah drama pertarungan sengit antara cicak melawan buaya yang ber-ending memilukan buat sang buaya. Retorika yang terus dibangun akhirnya runtuh berkat dukungan dan tekanan publik bertubi-tubi.
Fenonema perlawanan sengit juga ditunjukkan dalam perseteruan dahysat antara Mbak Prita Mulyasari versus RS Omni Internasional di atas panggung sosial negeri ini. Dukungan dan empati publik yang terus mengalir dari berbagai sisi melalui gerakan “Koin Keadilan”, diakui atau tidak, telah merontokkan nyali para elite sebuah rumah sakit yang dengan pongah menahbiskan dirinya sebagai RS berstandar Internasional itu. Secara resmi, mereka telah mencabut gugatan perdata dan meminta maaf secara terbuka kepada mantan pasiennya itu.
Fenomena “Koin Keadilan” dalam perseteruan antara Bu Prita vs RS Omni mengingatkan saya tentang dongeng “Semut dan Gajah”. Secara kasat mata, semut mustahil sanggup menaklukkan gajah. Namun, dalam situasi yang berbeda, kerumunan semut yang muncul secara bergelombang dan bertubi-tubi sanggup melawan gajah, bahkan bisa membuat sang gajah mati berdiri akibat tak sanggup lagi menghadapi amukan kerumunan semut yang muncul dari berbagai sisi. Lantas, menggigit telinga atau menerobos lubang dubur, hingga akhirnya membuat sang gajah lemas, loyo, dan tak berdaya. Habis!
Menjelang Tahun Baru 1431 Hijrah, mencuatnya fenomena “Koin Keadilan” seharusnya bisa dijadikan sebagai bahan refleksi bahwa tidak selamanya arogansi dan sikap takabur akan mampu membuat rakyat kecil kehilangan nyali.
Kalau kita kembali membuka catatan sejarah, ada beberapa contoh etos keteladanan tentang makna pengorbanan demi menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keyakinan. Pertama, kisah Ali bin Abi Thalib yang merelakan dirinya menggantikan Rasulullah dengan menempati tempat tidur Rasulullah untuk mengecoh orang-orang musyrik. Padahal, dia tahu betul bahwa taruhannya adalah nyawa.
Kedua, kisah Asma binti Abi Bakar R.A. yang harus berjalan sendirian pada hari yang gelap untuk menghindari pengamatan orang-orang Quraisy. Dia pun beresiko tertangkap orang-orang Quraisy yang selalu memburu Rasul dan sahabatnya. Namun, demi kebenaran, keyakinan, dan keselamatan Rasulullah, ia lakukan pekerjaan yang sarat resiko. Bahkan, ketika Rasul dan Abu Bakar membutuhkan dua tali pengikat, ia merelakan sebagian dari selendangnya untuk dibelah menjadi dua bagian agar bisa dipakai sebagai tali oleh Rasul.
Ketiga, kisah Abdullah bin Abu Bakar yang mondar-mandir antara gua Tsur dan Mekkah mencari berita dan mengikuti perkembangan, kemudian melaporkannya kepada Nabi dan ayahnya, Rasul dan Abu Bakar tetap mengetahui secara persis apa yang terjadi di sekelilingnya, meski berada di persembunyian. Abdullah ibarat surat kabar atau media online yang terus di-update secara intens, sehingga strategi Rasul tidak pernah meleset atau salah, sebab data yang didapat selalu akurat.
Keempat, kisah Amir bin Fahirah, pembantu Abu Bakar. Setiap hari dia harus membawa kambing-kambing piaraannya ke arah bukit Tsur guna menghapus jejak-jejak kaki Asma dan Abdullah ketika mereka pergi ke gua Tsur atau ketika mereka pulang kembali dari sana.
Ya, ya, ya, beberapa contoh keteladanan seperti kepingan puzzle dalam sebuah mozaik peradaban yang membuat nurani kita makin tersentuh dan terharu.
Situasi semacam itu sungguh kontras dengan situasi Indonesia kontemporer. Yang terjadi, bukannya semangat mengorbankan jabatan atau harta benda demi menegakkan kebenaran dan keadilan, melainkan sebaliknya. Tidak sedikit orang yang justru mengorbankan kebenaran demi mendapatkan jabatan dan harta.
Namun, sungguh, kebenaran itu tidak akan pernah bisa mati! Nah, selamat menyongsong Tahun Baru 1431 Hijrah, semoga kita benar-benar bisa berhijrah secara kultural dan spiritual, hingga akhirnya bisa melaju di tengah jalan tol peradaban dunia yang lebih bermoral, beradab, dan bermartabat. **
http://sawali.info/2009/12/16/semut-gajah-menjelang-tahun-baru/
Langganan:
Komentar (Atom)