Kata "kebohongan" sepertinya lagi dibicarakan banyak orang. Terlepas benar atau salahnya apa yang mereka katakan.
Bohong adalah pernyataan yang salah dibuat oleh seseorang dengan tujuan pendengar percaya. Fiksi meskipun salah, tetapi bukan bohong. Orang yang berbicara bohong dan terutama orang yang mempunyai kebiasaan berbohong disebut pembohong.
Garis antara kebohongan dan kebenaran sangatlah tipis. Sebuah contoh: jika seorang tetangga saya menyatakan bahwa ia merupakan keturunan Tsar Rusia; Nikolai II, maka bisa dikatakan ia berbohong. Kebohongannya bisa dibuktikan dengan sebuah penelitian DNA, dan selain itu kita semua tahu bahwa Tsar Nikolai II beserta keluarganya sudah dibantai habis oleh kaum komunis. Namun jika ia berkata bahwa ia masih keturunan Rusia, mungkin saja ia benar. Siapa tahu nenek moyangnya memang benar ada yang berasal dari Rusia.
Pada sebuah kebohongan ada pula unsur kesengajaan. Jika seseorang berkata bahwa ia merupakan seorang profesor padahal bukan, maka ia sengaja melakukannya untuk pamer. Hal ini merupakan sebuah kebohongan. Namun jika seorang anggota CIA berkata bahwa Osama bin Laden menurut data-datanya berada di Pakistan, padahal tidak, maka ini namanya kesalahan dan bukan kebohongan. Kecuali ia melakukannya dengan sengaja sebagai sebuah siasat, maka namanya adalah taktik disinformasi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bohong
Kalau kita mau jujur sebagai makhluk pribadi/individu, kita sepetinya juga sering bohong. Berbohong pada diri sendiri, berbohong pada hati nurani. Sebagai orang tua kita tanpa disadari juga pernah bohong sama suami/istri termasuk anak-anak. Sebagai seorang pegawai, karyawan, majikan, bos, bisa jadi kita pernah berbohong juga dengan atasan, pimpinan, pembantu, bawahan. Sebagai makhluk soaial kita juga mungkin pernah berbohong dengan orang lain, teman kerja, tetangga, bahkan saudara atau orang tua kita sendiri. Yang pasti kita tidak bisa berbohong dengan Yang Maha Tahu, Allah SWT. Allah pasti tahu apa yang sudah, akan, dan sedang kita lakukan. Allah juga akan meminta pertanggungjawaban dari apa yang kita lakukan.
Semoga kita semua sadar dari kebohongan yang kita lakukan, dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak mengulanginya lagi. Amin.
Senin, 17 Januari 2011
Minggu, 16 Januari 2011
Hati-Hati
Malam itu kami sekeluarga pergi ke kota. Niatnya mau beli obat untuk mengobati sakit mata. Sampai di suatu tempat ada orang habis ambil uang di ATM baru sadar kalau ATM-nya tertelan setelah keluar ruangan. Saya sempat berpikir apa ATM-nya rusak? Pak satpam memberi informasi untuk ibu tersebut. Datanglah besok pagi untuk mengambil ATM yang tertelan. Alhamdulillah di ATM yang satu bisa digunakan.
Sampai di masjid kami sholat Maghrib terlebih dahulu. Beli obat mata, lihat VCD bagus jadi beli juga. Perjalanan pulang selanjutnya. Mau beli apa lagi ya? Akhirnya berhenti di sebuah toko. Kami beli telur, kecap, bedak, dan si kecil minta susu. Termasuk saya beli batu baterai buat jam dinding di rumah (ruang belakang) yang sudah lama mati. Harganya 5.900 (berarti 1.500 per buahnya) kemahalan ndak ya? Batu baterai tetap saya beli. Sampai di kasir dihitung, dibayar, kembalian. Saya tidak sadar kalau tidak dapat struk. Setelah keluar toko saya lihat struk-nya (istri yang minta ke dalam) lho kok harganya beda? Saya penasaran, masuk kembali ke toko menanyakan harga tersebut. Ternyata harga yang tertulis di label rak berbeda. Itu harga lama dan belum diganti, demikian informasinya dari kasir. Kasir minta maaf, sayapun mengiyakan.
Saya punya kesimpulan awal, hati-hati dalam berbelanja. Bisa jadi harga sengaja mamang dibuat berbeda, atau ditambahkan, termasuk di toko lain ada kemungkinan juga. Ya buat pengalaman.
Sampai di masjid kami sholat Maghrib terlebih dahulu. Beli obat mata, lihat VCD bagus jadi beli juga. Perjalanan pulang selanjutnya. Mau beli apa lagi ya? Akhirnya berhenti di sebuah toko. Kami beli telur, kecap, bedak, dan si kecil minta susu. Termasuk saya beli batu baterai buat jam dinding di rumah (ruang belakang) yang sudah lama mati. Harganya 5.900 (berarti 1.500 per buahnya) kemahalan ndak ya? Batu baterai tetap saya beli. Sampai di kasir dihitung, dibayar, kembalian. Saya tidak sadar kalau tidak dapat struk. Setelah keluar toko saya lihat struk-nya (istri yang minta ke dalam) lho kok harganya beda? Saya penasaran, masuk kembali ke toko menanyakan harga tersebut. Ternyata harga yang tertulis di label rak berbeda. Itu harga lama dan belum diganti, demikian informasinya dari kasir. Kasir minta maaf, sayapun mengiyakan.
Saya punya kesimpulan awal, hati-hati dalam berbelanja. Bisa jadi harga sengaja mamang dibuat berbeda, atau ditambahkan, termasuk di toko lain ada kemungkinan juga. Ya buat pengalaman.
Sabtu, 15 Januari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)